Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Peristiwa

Diduga Disetrika Guru, Siswa SRMA 40 Ambon Alami Luka Bakar di Dada

30
×

Diduga Disetrika Guru, Siswa SRMA 40 Ambon Alami Luka Bakar di Dada

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

(Doc-Istimewa)

Ambon, mediasatu.co.id – Kasus dugaan kekerasan terjadi di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 40 Ambon. Seorang siswa berinisial MAL (17) mengalami luka bakar serius di bagian dada usai disetrika oleh seorang guru.

Example 300x600

Insiden itu bermula ketika korban dan enam rekannya membuat tato bertuliskan nama masing-masing di tubuh mereka. Kemudian, wali asuh memergoki aksi tersebut dan memanggil para siswa ke ruangan untuk memberinya nasihat.

Namun secara tiba-tiba, seorang guru bernama Bahri datang dengan membawa setrika panas dan langsung menempelkannya ke dada MAL. “Sekitar jam 7 malam saya dapat setrika di bagian dada dari Pak Bahri. Saya tulis nama di bagian dada, kami sekitar enam orang yang kedapatan, kami sempat mendapat hukuman cuma saya disetrika,” ungkap MAL, pada Rabu (12/11/2025).

Siswa asal Kabupaten Maluku Tengah itu menyebut hukuman tersebut tidak pantas. “Bagi saya, hukuman itu tidak manusiawi,” ujarnya.

Kepala SRMA 40 Ambon, Afia Joris, membantah bahwa guru sekolah melakuka kekerasan tersebut. Ia menyebut pelaku merupakan salah satu pegawai Kementerian Sosial (Kemensos) yang bertugas di sekolah rakyat.

“Jadi tindakan kekerasan ini bukan oleh pegawai, wali asuh atau wali asrama, guru, tidak ada. Itu adalah perbuatan salah satu pegawai Kemensos yang bertugas di sekolah rakyat,” katanya.

“Saya juga kaget kenapa bapak itu berada di situ juga kenapa tindakan itu dia lakukan, itu yang saya sesalkan. Saya tidak terima anak-anak saya menjadi korban kekerasan,” tambahnya.

Pihak sekolah hingga kini masih menempuh proses mediasi sebelum membawa kasus ini ke ranah hukum. “Kami sedang menangani cuma masih terhalang sehingga belum ada proses hukum,” jelas Afia. Sekolah yang terletak di Jalan Wolter Monginsidi, Desa Lateri, Kecamatan Baguala, Ambon itu menampung sekitar 100 siswa dari keluarga kurang mampu di wilayah Maluku. (Red).

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *