Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Daerah

Patung Macan Putih di Kediri jadi Sorotan, Warganet Nilai Bentuk Tak Proporsional

25
×

Patung Macan Putih di Kediri jadi Sorotan, Warganet Nilai Bentuk Tak Proporsional

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

(Doc-nixnews)

Kediri, mediasatu.co.id – Sebuah patung macan putih yang berdiri di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjadi perbincangan luas di tengah masyarakat. Patung tersebut dinilai tidak mencerminkan wujud harimau sebagaimana mestinya.

Example 300x600

Sorotan publik muncul karena bentuk patung dianggap tidak proporsional dan lebih menyerupai gabungan beberapa jenis hewan. Kendati demikian, tidak sedikit pihak yang memandang patung tersebut dari sudut pandang seni dan menganggapnya sebagai ekspresi artistik.

Salah satu pelaku seni, M Prastiyo, menilai karya tersebut dapat dipahami dari aliran seni tertentu.
“Kalau aliran surealis, ya suka-suka seniman pematungnya. Juga ada ekspresionisme, yang enggak melulu meniru alam,” ujar M Prastiyo, Minggu (18/12).

Ia menambahkan, sebelum menilai hasil karya, publik perlu memahami latar belakang dan tujuan pembuatannya.
“Makanya perlu dicek latarbelakang dan fungsi maupun kesepakatan awal pembangunan patung tersebut,” ucap pria yang akrab dengan sapaan Cak Mad itu.

Terpisah, Kepala Desa Balongjeruk Safi’i menjelaskan bahwa pembangunan patung macan putih tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama dalam rapat desa. Patung itu dibuat untuk mengangkat legenda lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
“Tujuannya adalah untuk mengangkat legenda desa sebagai ikon desa. Kebetulan desa kami ada legenda macan putih,” ujar Safi’i, Sabtu (27/12).

Ia menyebutkan, legenda macan putih selama ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Karena itu, pemerintah desa berinisiatif menjadikannya ikon agar cerita tersebut tetap terjaga dan dikenang.

Dalam proses pembuatannya, pihak desa menunjuk warga setempat yang dikenal memiliki keahlian membuat patung. Patung berbahan besi dan semen tersebut dikerjakan selama 18 hari dan selesai sekitar satu bulan lalu.

“Namun ternyata setelah selesai, banyak mendapatkan respons dari masyarakat,” ujar Safi’i.
“Ternyata hasilnya seperti yang kita ketahui itu,” tutur dia.

Meski menuai beragam tanggapan, Safi’i menegaskan bahwa seluruh kritik dan masukan dari masyarakat diterima dengan terbuka.
“Semuanya kita tampung karena kritik dan saran itu sangat penting bagi kemajuan bersama,” kata Safi’i.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *