(Doc-Istimewa)
Amerika Serikat, mediasatu.co.id – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat di tengah keputusan Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.
Penundaan ini terjadi setelah sebelumnya Trump mengancam akan menyerang jika Iran tidak membuka Selat Hormuz secara penuh. Namun, langkah tersebut justru mendapat balas dengan ancaman dari Teheran yang menyatakan siap menutup total selat strategis tersebut. Kemudian, akan menghancurkan infrastruktur energi di Timur Tengah.
Iran juga membantah keras klaim adanya pembicaraan produktif dengan Amerika Serikat. Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa tidak pernah ada negosiasi dalam bentuk apa pun, baik langsung maupun tidak langsung.
Pihak Iran menilai keputusan Trump sebagai strategi untuk memengaruhi pasar. Termasuk menekan harga minyak dan memulihkan pasar saham, sekaligus memberi waktu bagi persiapan militer.
Hal ini terlihat dari pergerakan pasar saham AS yang sempat merosot sejak konflik berlangsung. Namun langsung pulih setelah pengumuman penundaan serangan. Tenggat waktu lima hari yang mereka berikan bahkan berakhir setelah penutupan pasar pada hari Jumat.
Harga minyak dunia juga langsung merespons dengan penurunan sekitar 11 persen ke level 99,94 dolar AS per barel. Sementara itu, kapal USS Tripoli yang mengangkut sekitar 2.200 Marinir masih dalam perjalanan menuju Selat Hormuz dan akan tiba dalam waktu tiga hingga 5 hari ke depan.
















