(Doc-Tirtoid)
Jakarta, mediasatu.co.id – Sejumlah media menepis tudingan yang menyebut mereka sebagai bagian dari “antek asing” yang diklaim berada di balik demonstrasi pada Agustus 2025, sebagaimana disampaikan analis pro-Rusia.
Pemimpin Redaksi Konde.co, Luviana Ariyanti, menyatakan pihaknya menolak narasi tersebut dan menganggapnya sebagai upaya untuk melemahkan media yang selama ini bersikap kritis terhadap pemerintah.
“Konde menolak pernyataan itu dan tidak mau terjebak gitu ya dalam skenario antek asing gitu. Pertama kita gak mau terjebak dalam skenario antek asing gitu. Memang apa yang dilakukan pemerintah dalam hal ini Prabowo ya. Dia kan suka nongkrong sama Trump gitu ya. Terus ke China juga gitu. Nah justru siapa yang antek asing sebenarnya gitu kan” kata Luviana, Selasa (26/5).
Ia mempertanyakan penggunaan istilah “antek asing” dalam konteks hubungan internasional yang juga dijalankan pemerintah. Menurutnya, publik dapat melihat sendiri interaksi pemerintah Indonesia dengan berbagai pemimpin dunia.
“Dalam konteks ini ya, dalam konteks sebagai warga negara dan negara dan warga negara gitu ya. Siapa yang sebenarnya antek asing? Kan kita bisa lihat Prabowo ketemu Trump, ke China, ke mana, ke pemimpin-pemimpin dunia gitu-gitulah ya,” sambungnya.
Selain membantah tudingan tersebut, Luviana menyoroti posisi media alternatif yang dinilainya belum sepenuhnya mendapatkan dukungan maupun perlindungan dari negara, termasuk dari lembaga seperti Dewan Pers.
Menurut dia, media alternatif menghadapi situasi dilematis. Di satu sisi mereka dituntut tetap menjalankan fungsi jurnalistik, namun ketika memperoleh dukungan pendanaan untuk menopang kerja jurnalistik, justru dituding menerima pengaruh asing.
“Kalau misalnya kita mau memperjuangkan jurnalisme publik atau jurnalisme investigasi, jurnalisme mendalam itu kan justru didukung ya karena kita bekerja buat publik gitu,” tegasnya.
Bantahan serupa juga disampaikan Tempo terkait tuduhan soal sumber pendanaan medianya. Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Setri Yasra, menegaskan informasi yang beredar tidak sesuai dengan fakta.
“Tuduhan ini meleset karena tak sesuai faktanya. Tempo melalui cucu perusahaan mendapatkan pembiayaan investasi dari Media Development Investment Fund. Ini merupakan lembaga yang didirikan wartawan investigasi asal Serbia, Saša Vučinić pada 1995,” ujar Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Setri Yasra, Selasa (26/5).
Setri menjelaskan, dukungan dari Media Development Investment Fund (MDIF) diberikan untuk membantu pengembangan ekosistem digital dan model bisnis berbasis langganan yang dijalankan Tempo. Ia juga membantah klaim yang mengaitkan Tempo dengan pendanaan dari Open Society Foundation.
“Pendanaan MDIF untuk mendukung Tempo mengembangkan ekosistem digital, sehingga Tempo bisa independen dalam pengembangan bisnis model artikel berlangganan. Jadi tidak benar jika Tempo mendapat pendanaan dari Open Society Foundation yang kini dipimpin oleh salah satu anak George Soros. Karena faktanya, kami mendapatkan investasi yang harus dikembalikan dari MDIF,” tuturnya.
















