(Doc-Istimewa)
Jakarta, mediasatu.co.id – BNPB mencatat bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra pada akhir November lalu telah menimbulkan dampak besar. Hingga Kamis (11/12/2025) pukul 14.30 WIB, sebanyak 986 orang meninggal dunia, 224 orang masih hilang, dan lebih dari 5.000 warga mengalami luka-luka.
Bencana hidrometeorologi tersebut tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga menghancurkan ribuan permukiman warga. Kondisi ini meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat yang terdampak.
Para ahli menilai, dengan skala kerusakan yang begitu luas, upaya rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana tidak dapat berlangsung dalam waktu singkat. Proses pemulihan kira-kira membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum masyarakat dapat kembali hidup normal.
Pengalaman penanganan pascatsunami Aceh 2004 menjadi rujukan dalam memperkirakan durasi pemulihan. Saat itu, memerlukan waktu sekitar 5 tahun hingga para penyintas dapat kembali menetap di hunian permanen.
Akademisi kebencanaan UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mendorong pemerintah untuk menerapkan prinsip Build Back Better (BBB) dalam rekonstruksi pascabencana. Menurutnya, pembangunan kembali harus mengedepankan konsep better, safer, and greener.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan mitigasi risiko bencana di wilayah rekonstruksi agar lebih tangguh menghadapi ancaman serupa di masa depan. Untuk mempercepat penanganan dampak bencana, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian menyatakan Pemerintah Pusat melalui Kemendagri akan terlibat langsung dalam penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatra. (Red).


















