Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Kesehatan

Kasus Virus Nipah Muncul di India, Indonesia Perketat Pengawasan

5
×

Kasus Virus Nipah Muncul di India, Indonesia Perketat Pengawasan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

(Doc-Istimewa)

Jakarta, mediasatu.co.id – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus angkat bicara terkait virus Nipah yang dikenal sebagai salah satu virus paling mematikan di dunia. Hingga saat ini, virus tersebut belum terdeteksi masuk ke Indonesia.

Example 300x600

Benjamin menjelaskan virus Nipah telah ada sejak 1998 dan sempat ditemukan di sejumlah negara, termasuk India. Meski memiliki tingkat kematian yang tinggi dan belum tersedia vaksin maupun obat khusus, jumlah kasus secara global masih tergolong terbatas.

“Virus Nipah itu sudah ada sejak 1998. Ada di India, tahun ini ada dua kasus. Memang angka kematiannya sangat tinggi, tetapi jumlah kasus di dunia ini belum sampai 1.000 kasus,” ujar Benjamin saat kunjungan di Kepatihan Pemda DIY, Kamis (29/1/2026).

Ia menegaskan hingga kini tidak ada laporan kasus virus Nipah di Indonesia. Sejumlah negara yang berdekatan dengan wilayah terdampak di India juga telah melakukan langkah antisipasi.

“Jadi belum sampai di Indonesia. Di Thailand sudah bagus dilakukan skrining. Karena kasusnya di India, di satu wilayah, dan di India pun baru dua kasus. Di sana langsung dilakukan lockdown,” jelasnya.

Menurut Benjamin, Pemerintah India menunjukkan komitmen kuat untuk mencegah penyebaran virus ke negara lain.

Lebih lanjut, Benjamin memaparkan langkah antisipasi yang telah dilakukan pemerintah Indonesia. Ia menyebut Indonesia telah melakukan skrining awal, terutama di pintu masuk negara seperti bandara.

“Di Indonesia otomatis sudah melakukan screening. Kita punya alat deteksi di bandara, jadi pasien dengan suhu tubuh tinggi sudah bisa terdeteksi. Namun memang skrining seperti saat COVID-19 belum kita lakukan,” pungkasnya.

Virus Nipah sendiri diklasifikasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai patogen berisiko tinggi karena tingkat fatalitasnya yang besar serta keterbatasan penanganan medis.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *