(Doc-Istimewa)
Karawang, mediasatu.co.id – Dalam empat tahun terakhir, 2021, angka stunting Karawang berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat 20,6% balita mengalami stunting. Meski sempat menurun drastis pada 2022 menjadi 14%, angkanya kembali naik di tahun-tahun berikutnya. Sementara. itu, data e-PPGBM menunjukkan capaian yang lebih positif. Dengan prevalensi turun dari 2,7% (2021) menjadi 1,54% (2023), walau sedikit naik ke 1,8% pada 2024.
Fluktuasi memberikan sinyal bahwa intervensi perlu diperkuat, ditata ulang, dan dijalankan lebih inklusif. Inilah yang kemudian melahirkan berbagai inovasi khas Karawang.
Salah satu terobosan yang mendapat banyak perhatian adalah BAAS (Bapak Asuh Anak Stunting). Di mana, terobosan tersebut langsung Bupati dan Wakil Bupati Karawang yang mencanangkannya sejak Juli 2022. Program ini melibatkan 36 perusahaan dan seluruh pejabat pemerintah daerah untuk menjadi “orang tua asuh” bagi anak-anak stunting. Bahkan Dandim 0604 ditunjuk sebagai ketua pelaksana, dengan dana dikelola transparan melalui Baznas Karawang.
Tak hanya itu, Karawang juga membentuk model pentahelix Desa/Kelurahan Tangkas Stunting. Di mana, hal tersebut merupakan sebuah pendekatan integratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, dan akademisi.
Mulai dari 5 desa, kini program ini telah menjangkau seluruh desa/kelurahan lokus stunting. Yang menarik, semua ini pihaknya jalankan tanpa anggaran khusus. Hanya berbekal grup WhatsApp, gotong royong, dan semangat kolaborasi.
(Doc-Istimewa)
Di balik semua inovasi itu, sosok dr. Nurmala Hasanah, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Karawang, memainkan peran penting. la mengembangkan strategi komunikasi dan informasi (Strakom Stunting ABCDEFG) dengan pendekatan yang mudah diingat dan diterapkan.
“Dari program yang kita laksanakan kami berupaya untuk memberikan informasi yang gampang di ingat oleh masyarakat,” kata Nurmala.
Sadar bahwa mencegah stunting harus dari remaja, Karawang pun mencetuskan GRES KECE (Gerakan Remaja Sehat Keren dan Cerdas) Karawang. Lewat program ini, remaja putri mendapatkan edukasi, olahraga bersama, dan konsumsi tablet tambah darah setiap minggu di sekolah. Selain itu, ada juga larangan untuk tidak merokok. Hasilnya, dalam dua tahun, angka anemia remaja turun dari 30,25 % (2023) menjadi 28,3% (2024).
“Saat ini, target anemia 2024 sudah tercapai. Mudah-mudahan ibu-ibu tidak melahirkan bayi-bayi kecil karena ibunya anemia dan bermasalah gizi. Kita berkomitmen Karawang Tangkas bukan sekadar program. Ini adalah semangat bergerak bersama untuk kesehatan,” tambah dr. Nurmala.
Kreatifitas Pemkab Karawang dalam menciptakan berbagai inovasi lokal dengan model pendekatan partisipatif dan kolaboratif lintas sektor memiliki harapan. Di mana, harapannya, bisa menjadi model replikasi nasional dalam strategi konvergensi penurunan stunting.



















