Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Peristiwa

Protes Suara Tadarusan, WNA di Gili Trawangan Rusak Musala dan Ancam Warga

2
×

Protes Suara Tadarusan, WNA di Gili Trawangan Rusak Musala dan Ancam Warga

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

(Doc-Istimewa)

Lombok Utara, mediasatu.co.id – Kegiatan tadarusan di Musala Dusun Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, terganggu setelah seorang WNA mengamuk pada Rabu (18/2) malam.

Example 300x600

WNA tersebut mempersoalkan penggunaan pengeras suara saat warga mengaji.

“Yang dia permasalahkan itu kegiatan tadarusannya karena dia terganggu dengan suara speaker itu,” ujar Kadus Gili Trawangan, Muhammad Husni, Kamis (19/2).

WNA itu kemudian masuk ke dalam musala, menghentikan aktivitas warga, serta merusak mikrofon. Keributan pun terjadi hingga menyebabkan seorang warga mengalami luka dan seorang tokoh musala terjatuh.

“Bahkan, ada salah satu warga itu luka. Dia cakar orang karena saling bela diri. Bahkan, salah satu tokoh di musala itu sampai jatuh dibuat,” kata Husni.

Setelah itu, WNA kembali ke vilanya sambil membawa ponsel milik warga. Saat warga mendatangi vila sekitar pukul 00.30 WITA untuk mengambil kembali ponsel tersebut, situasi kembali memanas.

“Kami minta stafnya buat gedor, akhirnya setelah 10 menit baru dia keluar, tetapi ngancam bawa parang. Dia bilang ‘what do you want’ sambil dia acungkan parangnya. 2 (parang) dipakai ngancem warga itu sambil dia lari. Dia kejar warga, akhirnya beberapa warga takut. Padahal hanya mau ngambil hp yang dia ambil itu. Hanya 1 yang bisa diamakan parang itu, satunya masih dibawa sama dia,” jelas Husni.

Kamis (19/2), WNA bernama Miranda Lee asal Selandia Baru mendatangi kantor polisi di Gili Trawangan untuk mengembalikan ponsel tersebut, tetapi belum menyerahkan satu parang yang masih dibawanya.

Husni menilai tidak pernah ada keluhan selama 10 tahun musala itu berdiri di dekat vila-vila sekitar.

“Padahal (tadarusan) itu masih di bawah jam 12. Kami kan di sini, kalau sudah jam 12 malam, nggak pakai pengeras suara lagi,” katanya.

Ia juga meminta agar pihak imigrasi mengambil langkah tegas.

“Lebih baik dipulangkan saja bule ini. Bila perlu pihak imigrasi menjemputlah,” ujarnya.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *