(Doc-Istimewa)
Iran, mediasatu.co.id – Krisis ekonomi yang melanda Iran semakin terlihat setelah nilai mata uang nasional, rial, jatuh ke level terendah sepanjang sejarah. Kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya tekanan hidup masyarakat dan melemahnya daya beli.
Lonjakan inflasi menjadi salah satu dampak paling nyata dari kejatuhan mata uang tersebut. Harga bahan pangan tercatat naik rata-rata 72 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara inflasi tahunan Iran kini berada di kisaran 40 persen, memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga.
Di sisi lain, ketidakpastian politik yang terus berlangsung membuat kepercayaan publik dan investor terhadap rial semakin menurun. Masyarakat memilih menyimpan kekayaan mereka dalam bentuk dolar AS, emas, maupun kripto, yang justru mempercepat pelemahan nilai tukar rial.
Pelemahan mata uang Iran dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari sanksi internasional, terutama dari Amerika Serikat, inflasi yang tinggi, pembatasan ekspor minyak, hingga situasi politik yang tidak stabil. Tekanan ini membuat perekonomian Iran semakin terisolasi dari sistem keuangan global.
Bahkan terhadap mata uang utama dunia seperti euro, rial mengalami penurunan tajam. Di sejumlah negara Eropa, mata uang Iran tidak lagi diterima atau dapat ditukarkan, menandai semakin sempitnya ruang gerak ekonomi Iran di pasar internasional.
Kondisi ekonomi yang memburuk memicu gelombang demonstrasi besar sejak 28 Desember 2025. Aksi protes yang dipicu oleh mahalnya harga pangan dan melemahnya nilai uang tersebut kemudian berkembang menjadi tuntutan perubahan pemerintahan.
Gelombang protes itu berujung pada bentrokan dengan aparat keamanan. Ratusan orang dilaporkan tewas, sementara ribuan lainnya ditangkap, memperparah ketidakstabilan politik di negara tersebut.


















