(Doc-Istimewa)
Amerika Serikat, mediasatu.co.id – Ancaman terhadap masa depan North Atlantic Treaty Organization (NATO) kembali Presiden Amerika Serikat, Donald Trump ungkapkan terkait ketegangan di Selat Hormuz. Ia meminta negara-negara anggota aliansi tersebut untuk turut membantu membuka jalur pelayaran strategis itu.
Pernyataan tersebut Trump sampaikan pada Senin (16/3/2026). Ia memperingatkan bahwa hubungan dalam NATO dapat memburuk apabila sekutu-sekutu Amerika tidak memberikan respons positif terhadap permintaannya.
“Jika tidak ada tanggapan atau jika tanggapannya negatif, masa depan NATO akan sangat buruk,” kata Trump.
Dalam pernyataannya, Trump juga menilai China semestinya ikut berperan dalam menjaga keamanan jalur pelayaran di kawasan tersebut karena sangat bergantung pada pasokan energi dari wilayah itu.
“Saya pikir China juga harus membantu karena 90% minyaknya berasal dari selat ini,” ujarnya.
Meski demikian, pernyataan tersebut dinilai tidak sepenuhnya tepat. Faktanya, hanya sekitar 40 persen impor minyak China berasal dari kawasan tersebut, sementara kapal-kapal negara itu masih mendapat izin melintas oleh Iran.
Sementara itu, sejumlah sekutu Amerika di Eropa menolak gagasan tersebut. Pemerintah Jerman dan Norwegia melalui juru bicara masing-masing menegaskan bahwa konflik tersebut bukan bagian dari operasi NATO.
“Ini bukan perang NATO,” kata juru bicara Kanselir Jerman dan PM Norwegia.
Pernyataan Trump tersebut juga mengingatkan pada sikapnya dua bulan lalu yang sempat meragukan peran NATO dalam keamanan global. “NATO itu lemah tanpa AS. Kita tidak pernah membutuhkan mereka, kita tidak pernah meminta apa pun dari mereka,” kata Trump.


















