(Doc-nixnews)
Yogyakarta, mediasatu.co.id – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menanggapi laporan dugaan penistaan agama yang ditujukan kepadanya usai ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada. Ia menilai tuduhan tersebut muncul akibat pemotongan konteks pernyataan yang beredar di media sosial.
Melalui juru bicaranya, Husain Abdullah, JK menegaskan bahwa isi ceramahnya justru menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama.
“Setelah ditelusuri, tuduhan itu merupakan hasil pemotongan konteks. Kami membantah dengan tegas tuduhan itu,” ujar Husain, Minggu (12/4).
Potongan pernyataan yang viral di media sosial hanya menampilkan sebagian kecil dari penjelasan JK terkait konflik di Poso dan Ambon.
“Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti,” bunyi potongan kalimat JK tersebut.
Di sisi lain, sejumlah akun Instagram menarasikan bahwa JK menyampaikan hal yang tidak sesuai dengan ajaran Kristen, yang dikenal mengajarkan kasih terhadap musuh.
Husain menegaskan, pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks pengalaman JK saat membantu proses perdamaian konflik di Poso dan Ambon.
“JK menggambarkan usahanya mendamaikan konflik Poso dan Ambon kepada civitas academica UGM. Di mana JK terlebih dahulu meluruskan keyakinan kedua kelompok yang bertikai, Islam dan Kristen, bahwa mereka telah bertindak keliru menggunakan jargon agama sebagai alasan pembenar yang menyebabkan ribuan nyawa melayang dari kedua pihak dan konflik susah dihentikan,” jelas dia.
Dalam konflik tersebut, kedua pihak sempat memiliki keyakinan bahwa membunuh lawan atau gugur dalam pertempuran akan membawa mereka ke surga.
“Pandangan keliru inilah yang diluruskan Pak JK bahwa tidak ada satu pun agama yang membolehkan untuk saling membunuh. Ini disampaikan kepada para panglima perangnya saat itu,” tuturnya.
Upaya perdamaian konflik tersebut akhirnya tercapai melalui Perundingan Malino I dan Perundingan Malino II.
“Itulah kenapa Pak JK harus meluruskan pemahaman sesat mereka. Fakta sejarah ini dapat dikonfirmasi kepada tokoh-tokoh perundingan damai baik untuk Poso maupun Ambon yang masih hidup,” katanya.


















