(Doc-Istimewa)
Karawang, mediasatu.co.id — Pelepasliaran 145 ekor burung murai batu di kawasan Puncak Sempur, Pegunungan Sanggabuana, Kabupaten Karawang, menuai sorotan. Aksi tersebut berlangsung tanpa koordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.
Pembina Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), Bernard Trinarta Wahyu Wiryanta, mengatakan pihaknya menerima sejumlah laporan dari warga mengenai pelepasliaran massal tersebut. “Informasi yang kami dapatkan, ada 145 ekor burung kicau jenis murai batu yang mereka lepas di satu titik secara bersamaan. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan,” ujar Bernard, Selasa (22/9/2026).
Menurut Bernard, pelepasliaran satwa seharusnya melewati sejumlah tahapan penting. Namun, aksi tersebut tidak melalui pemeriksaan kesehatan maupun proses karantina.
Kondisi itu, kata dia, dapat membuka peluang penyebaran virus dan patogen kepada burung liar yang sudah menghuni kawasan Pegunungan Sanggabuana. Penyakit yang terbawa burung hasil penangkaran berpotensi mengancam populasi satwa lokal.
Selain persoalan kesehatan, SCF juga menyoroti kemampuan burung untuk beradaptasi dengan lingkungan alam. Bernard menyebut burung-burung tersebut tidak menjalani proses habituasi sebelum pelepasliaran.
“Burung yang lepas tidak melalui proses habituasi. Laporan yang SCF terima menyebutkan sejumlah burung bahkan mati di lokasi. Kematian ini diduga kuat akibat ketidakmampuan burung beradaptasi, mencari pakan alami, serta menghindari predator,” jelasnya.
SCF juga mempertanyakan asal-usul serta kemurnian genetik murai batu tersebut. Bernard khawatir burung hasil penangkaran dengan asal-usul genetik yang tidak jelas dapat bercampur dengan populasi murai batu lokal.
Pencampuran tersebut, menurut SCF, dapat memengaruhi kemurnian genetik populasi murai batu yang berkembang secara alami di Pegunungan Sanggabuana. Selain sejumlah persoalan tersebut, kondisi fisik burung saat pelepasliaran juga menjadi perhatian. SCF menyebut beberapa burung masih membawa atribut penangkaran ketika orang melepasnya ke alam.
Aksi pelepasliaran tanpa persiapan dan koordinasi yang memadai itu akhirnya memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan burung sekaligus keseimbangan ekosistem lokal.
















