(Doc-Istimewa)
Karawang, mediasatu.co.id – Seorang siswi sekolah dasar negeri di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, harus berhenti bersekolah setelah baru dua hari mengikuti kegiatan belajar. Pihak sekolah menyampaikan bahwa kuota penerimaan siswa sudah penuh.
Kisah tersebut menjadi perhatian publik setelah ayah siswi mengunggah pengaduan melalui akun Instagram pribadinya. Dalam video yang beredar luas, ia menyampaikan keluhan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengenai nasib putrinya.
Menurut sang ayah, proses pendaftaran telah berkangsung sejak awal Mei 2026. Ia mengaku telah menyerahkan seluruh berkas fisik. Termasuk fotokopi Kartu Keluarga (KK) dan Akta Kelahiran, serta mengikuti pendaftaran daring hingga datanya masuk ke dalam sistem.
“Saya mendaftar sejak awal bulan Mei, Pak. Bahkan saya sudah mengirimkan data-data berkas ke sekolah,” ujar sang ayah dalam rekaman video tersebut, Minggu (19/7).
“Anak saya sudah mulai masuk sekolah dan sudah betah di sana. Bahkan sejak jam 5 subuh pun, anak saya sudah bangun. Dia sudah belajar sendiri, mandi, memakai kerudung, dan bersiap-siap karena sangat bersemangat ingin sekolah. Anak saya sangat bersemangat, Pak,” katanya.
Sang ayah juga menduga persoalan terjadi akibat kurangnya komunikasi dari pihak sekolah. Ia menyebut istrinya telah beberapa kali meminta agar nomor kontaknya masuk ke dalam grup WhatsApp informasi sekolah, namun permintaan tersebut pihak sekolah abaikan.
Akibatnya, keluarga tidak mengetahui adanya informasi terkait proses daftar ulang. Mereka baru mengetahui adanya masalah ketika putrinya telah memasuki hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), dan pihak sekolah menyatakan bahwa nama anak tersebut tidak terdaftar.
“Tapi waktu saya nyuruh ke sekolah, pihak sekolah mengatakan bahwa kuotanya sudah penuh. Padahal saya adalah salah satu orang yang pertama kali mendaftarkan anak di sana. Mengapa anak saya tidak daftar oleh kepala sekolahnya? Dan yang terakhir saya tahu, nama anak saya seharusnya sudah masuk, Pak. Tidak ada informasi sama sekali mengenai adanya pendaftaran gelombang kedua,” sesalnya.
















