(Doc-Tirtoid)
Bahrain, mediasatu.co.id – Insiden ledakan di Bahrain pada 9 Maret 2026 yang melukai 32 warga sipil akhirnya menemukan titik terang. Hasil investigasi menunjukkan bahwa serangan tersebut bukan dilakukan oleh Iran, melainkan melibatkan rudal Patriot milik Amerika Serikat.
Temuan ini diperoleh dari analisis peneliti Middlebury Institute dan telah dikonfirmasi oleh Reuters. “Rudal Patriot yang terlibat dalam ledakan di Bahrain dioperasikan oleh Amerika Serikat,” tulis Reuters, Minggu (22/3/2026).
Bukti pendukung terlihat dari video amatir warga yang memperlihatkan rudal berwarna putih dengan lintasan rendah dari darat, yang identik dengan sistem pertahanan Patriot AS. Para peneliti menambahkan bahwa karakteristik tersebut berbeda dengan rudal Iran yang biasanya memiliki sudut datang lebih tinggi, antara 45 hingga 70 derajat, serta berwarna kuning.
Awalnya, Bahrain dan Amerika Serikat menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan kilang minyak dan kawasan permukiman. Namun, setelah laporan Reuters dipublikasikan, Bahrain mengakui bahwa kerusakan tersebut disebabkan oleh rudal Patriot milik AS.
Sejak awal, Iran telah membantah tuduhan tersebut dan menyebut insiden itu sebagai operasi bendera palsu untuk memicu keterlibatan negara-negara Teluk dalam konflik melawan Iran.
Menanggapi perkembangan ini, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan, “Apa yang disembunyikan oleh musuh, kini telah terungkap.”
Iran juga menegaskan tidak terlibat dalam berbagai serangan terhadap wilayah sipil di negara lain seperti Turki, Oman, Azerbaijan, Arab Saudi, Bahrain, dan Siprus. Mereka menekankan bahwa sasaran mereka hanya terbatas pada pangkalan militer serta kepentingan Amerika Serikat di kawasan.


















