(Doc-Tirtoid)
Jakarta, mediasatu.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Rupiah ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp17.529 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.414.
Pelemahan rupiah disebut dipengaruhi kombinasi faktor domestik maupun global. Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan kondisi ekonomi dalam negeri menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap mata uang Garuda.
Menurut Ibrahim, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 dinilai belum menunjukkan kondisi yang sehat. Selain itu, pasar juga merespons negatif penurunan sektor manufaktur Indonesia pada April 2026 yang menjadi kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir.
“Ketidakpastian arah kebijakan terkait pengenaan royalti terhadap hasil tambang, ditambah belum jelasnya arah penambahan pendapatan negara di tengah belanja yang nilainya jumbo membuat pasar khawatir dengan kondisi fiskal,” katanya.
Dari sisi eksternal, pelemahan rupiah turut dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ibrahim menyebut negosiasi penghentian konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih terlihat rapuh sehingga memicu kekhawatiran pasar global.
Sejalan dengan pelemahan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditutup di zona merah pada perdagangan hari yang sama. Berdasarkan data RTI Business, IHSG turun 46,7 poin atau 0,68 persen ke level 6.858,899.
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik dinilai mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global maupun arah kebijakan ekonomi nasional.


















