(Doc-Istimewa)
Jakarta, mediasatu.co.id – Badan Gizi Nasional (BGN) mengubah fokus pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) imbas anggarannya dipangkas dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun tahun ini.
Alih-alih mengejar penambahan SPPG secara masif agar dapat menjangkau target 83 juta penerima pada 2026, BGN akan memprioritaskan penyaluran manfaat ke wilayah terpencil dan meningkatkan kualitas dapur yang sudah beroperasi.
Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang mengatakan, pihaknya kini berfokus pada perbaikan kualitas SPPG yang sudah beroperasi agar memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.
Selain itu, BGN akan memprioritaskan anak-anak dan kelompok penerima manfaat yang tinggal di daerah terpencil, yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap makanan bergizi.
“Kami akan lebih fokus memastikan dapur yang ada berjalan sesuai standar dan menjangkau wilayah yang paling membutuhkan,” tegas Nanik, Kamis (5/6).
Nanik menambahkan, upaya tersebut diusahakan agar tidak membebani APBN. Untuk itu, altnernatif sumber pendanaan MBG di wilayah terpencil pun telah disiapkan.
Saat ini, lebih dari 27 ribu SPPG telah beroperasi di berbagai wilayah. BGN juga akan melakukan pemetaan untuk menentukan daerah yang sudah memiliki kapasitas dapur memadai sehingga pengajuan SPPG baru dapat dibatasi.
Untuk mendukung keberlanjutan program, BGN membuka peluang pendanaan alternatif dari swasta, termasuk melalui hibah dan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
















